
RUU SOPA-PIPA
Ada krisis besar lapangan pekerjaan di Amerika belakangan ini. Dan nampaknya mereka menemukan sebuah solusi cerdas atas permasalahan dalam negeri Amerika itu. RUU SOPA-PIPA, sebuah wacana yang tidak lebih dari sekedar move dan riak politik Amerika Serikat untuk memperlihatkan kembali kekuatan dan kedigdayaan hegemoni ekonomi AS atas dunia saat ini. Sebab dibelahan dunia sana, dan dalam negeri sendiri, bangsa-bangsa tertindas berani melawan arogansi mereka setelah sekian tahun menjadi batu bata bangunan bagi kedigdayaan segelintir pemilik modal dengan mengunakan media sebagai senjatanya. (Continued)
Tetap anteng menjadi penonton yang baik saja tidak cukup!
Plaaaakkkk!
Sayang, tak ada tanda merah di pipinya, tak ada pula bekas tangan-tangan mungil terlukis di jidatnya. . . . (Continued)
Anda pernah nonton film The Year of Living Dangerously? Sebuah film drama romantik buatan Australia yang menceritakan kisah petualangan seorang wartawan Australia yang ditugaskan meliput situasi di Jakarta/Indonesia pada tahun 1965. (Continued)
Dalam sebuah berita, Presiden SBY pernah menyatakan kalau masalah rokok di Indonesia sudah menjadi epidemik. Epidemik tembakau akut yang sangat mengkhawatirkan. Seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja dan efek psikologis yang luar biasa.
Beberapa berita mengungkapkan kalau di Indonesia, permasalahan rokok menjadi menjadi penyebab kematian. Penelitian demografi konsumsi menunjukkan, epidemik tembakau di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan. Bahkan data dari Menteri Kesehatan, mencatat bahwa kelompok umur pertama kali merasakan rokok pada usia 10-14 tahun dan mengalami peningkatan dari 10 persen menjadi 17,5 persen dan umur 15-19 tahun meningkat dari 33 persen menjadi 43,3 persen. Berita Antara melaporkan. (Continued)
Ada pemandangan tidak lazim hari-hari ini. Banner-banner, reklame menghias dimana-mana dan mall-mall bersolek total. Disana-sini menjelma Boneka Natal berwarna putih berdiri diatas salju sambil tersenyum cerah, pun tak kalah cemara-cemara memutih salju. Semuanya serba dingin salju. . .
Mengapa memperingati Natal, mesti latah? Meniru gaya Eropah dengan menampilkan suasana musim dingin lengkap dengan salju? Bukankah Yesus Kristus lahir di Yerusalem yang secara geografis memang tidak pernah kejatuhan salju?
Mengapa cara dan model peringatannya tidak menyesuaikan dengan kultur, budaya dan karakter ke-Indonesia-an?
Mengapa harus salju? Mengapa bukan sesuatu yang melambangkan universalitas keagamaan? Bukankah lonceng kuning, lilin, cemara, atau bahkan gereja yang dipandang lebih universal dan berdekatan dengan aspek religi yang memperkaya tradisi keagamaan tanpa menghilangkan makna peringatan?
(Continued)
Selasa, Desember 20, 2011
Sondang Hutagalung bisa dibilang seorang “pejuang” yang aneh. Sebab perlu 48 sebelum identitasnya terungkap. Lalu, apa yang terjadi selama 48 jam itu? Sebelum mati beneran, Sondang berevolusi banyak kali. Awalnya diberitakan yang mati bakar diri depan istana adalah perempuan. Lalu media meralat bilang laki-laki. Awalnya disebutkan usianya 40-an tahun. Lalu diralat jadi 20 tahun. Bahkan Sondang sempat diberitakan sudah meninggal, lalu ‘hidup’ lagi dan akhirnya mati. (Continued)
Pada Rabu, 14 Desember 2011 koran-koran mainstream tanah air hampir serempak menurunkan berita “gembira”, karena PT Freeport akan segera beroperasi kembali di Timika, Papua setelah terjadi deal dan kesepakatan antara Serikat Pekerja dan Manajemen Freeport. Koran Kompas misalnya menurunkan laporannya berjudul “PKB Freeport Disepakati”, sementara Detik Finance memberi judul “Serikat Pekerja dan Manajemen Freeport Berdamai“ (Continued)
Bangsa ramah, bisa jadi memang ungkapan ‘bijak’ dan tidak salah jika melekat di jiwa bangsa ini. Selain ramah, bangsa ini juga bangsa santun. Mengapa? Jika laporan berita yang dilaporkan oleh Detik Surabaya adalah benar, maka ungkapan “ramah” dan “santun” begitu dihayati oleh Pemkot Surabaya, khususnya Dinas Perhubungan Kota Surabaya. Tapi, ramah dan santun itu, sangat kontras dengan sikap terhadap bangsanya sendiri yang dengan gampang dan mudah membongkar tembok-tembok ratapan dan pelindung bagi warga sebangsa. (Continued)
Hari-hari ini, orang-orang di lingkaran dekat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono masih percaya – dan ingin orang banyak percaya – kalau Indonesia kebal dari revolusi ala Timur Tengah. Tak ada alasan untuk cemas, tak ada dalil untuk gelisah. Karenya, orang-orang penting itu selalu sibuk berkampanye kalau rejim Susilo Bambang Yudhoyono telah berhasil meningkatkan kesejahteraan rakyat, memangkas angka-angka kemiskinan meskipun di sudut-sudut kolong jembatan yang pengap, banyak anak-anak sebangsa telah mati karena kelaparan dan ratusan bahkan ribuan terbaring lemas berbalut kulit. (Continued)
Pengurus Unit Kerja Federasi Serikat Pekerja Sektor Kimia dan Energy serta Pertambangan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia PT Freeport Indonesia (PUK FSP KEP SPSI PTFI) membuat surat terbuka kepada Presiden Indonesia terkait tuntutan melalui aksi mogok mereka hingga kini. (Continued)
Sumber bilang, 9.000 karyawan ini terdiri dari semua lapisan dan agama, dari karyawan Backoffice sampai operator shovel (mesin skop raksasa) paling rendah. Untuk 2 tahun, mereka mengumpulkan semua data tentang Freeport, berapa produksi emas, perak dan tembaga, berapa biaya, bahkan hingga detil pembelian mur, baut, dan rantai. Mereka lalu mengkompilasi data itu hingga akhirnya mendapati apa yang mereka sebutkan sebagai “data faktual” berapa sesungguhnya yang Freeport dapat sebagai kontraktor di Timika. Bertriliun-trilyun royalti, pajak, dlsb yang kerap diumumkan perusahaan, plus ongkos gaji buruh dan karyawan, plus ongkos produksi, totalnya sebenarnya hanya “satu persen” dari keuntungan Freeport, kata sumber. “99%nya mereka yang makan sendiri,” katanya. (Continued)
Anda bisa bilang ini bicara kosong orang yang berpikir konspiratif. “West Papua? The Road to Freedom” di East School of the Examination Schools, 75-81 High Street, Oxford, Inggris dan Kongres Papua Merdeka beberapa bulan lalu adalah adalah pesan ‘manis’ asing buat Indonesia. Mereka akan segera datang ke Jakarta dengan sebuah “minuman kaleng” baru. Jakarta mengutak-atik persoalan di Papua, berarti Jakarta mesti siap merelakan Papua menjadi Timor Leste. Satu persoalan yang pernah diwanti-wantikan oleh AC Manulung –Tabloid Intelijen edisi dwi mingguan 21 mei 2008– ; ” Gerakan separatis Papua muncul sebagai gerakan konspirasi asing dan ini sesuai dengan grand strategy global AS” . (Continued)
Karl Raymond Popper dan Francis Fukuyama pernah menyebutkan bahwa masyarakat Amerika saat ini adalah bentuk terakhir peradaban umat manusia. Menurut mereka berdua, masyarakat manapun yang hendak melanjutkan kemajuan, akan berakhir pada bentuk masyarakat Amerika saat ini, American Dream. Jika ada yang berharap manusia bisa mencapai sebuah peradaban yang lebih dari itu, ia seorang utopian. Tentu mereka berdua menjadi begitu tersohor dan ‘di-tersohor-kan’ karena tidak lepas dari rekayasa di balik layar. (Continued)
Pengantar Redaksi: Tulisan berseri ini adalah upaya lanjutan Islam Times menggali khasanah WikiLeaks, ‘tambang emas’ kawat rahasia Kedutaan Amerika Serikat di website WikiLeaks. Mulai edisi ini, kami akan memotret keberadaan dan sepak terjang 17.000 orang kaki tangan Kedutaan Amerika di Indonesia, dari perwira menengah di kantor polisi di Banda Aceh hingga ke pejabat dan akvitis di pedalaman Papua.
(Continued)
Filed in Hankam, Politik, Sudut Sejarah
|
Tagged BIN, boed, cia, Dino, dino pati djalal, Hankam, Intelijen, jokowi, Mossad, nasional, Tag: solo
|
Drama reshuffle usai sudah. Dan hak progresif Presiden membuang sebagian menteri-menterinya yang mbalelo.
Kaum papa, petani, buruh, nelayan dan semua rakyat yang termiskinkan faham kalau Fadel Muhammad yang berani itu bertindak dengan gegabah menentang kehendak Bapak. Dia menentang karena Fadel Muhammad mau melayani kaum termiskinkan. Karena itu beliau layak bapak tendang. Tentu kami menangisi kepergian pahlawan itu. Dimata kami Fadel Muhammad adalah pelayan kaum tertindas!
Dan. . . .
Ini yang menambah sesak rongga dada kami, Marie Eka Pangestu! Untuk nama ini kami tidak bisa berkata apa-apa. Sebab dia seorang menteri yang tidak bisa berbuat apa-apa kecuali memberi senang bagi segelintir taipan kaya raya dan asing di negeri ini.
Tabik buat Marie Eka Pangestu! Engkau wanita hebat!
JADILAH PENJILAT DI NEGERI INI!
“I missed my family a lot,” Shalit a gaunt, his breathing difficult at times, said in an interview on Egyptian television, which was conducted before it is transferred to Israel. “I hope this agreement will promote peace between Israel and the Palestinians.” Demikian ucapan Gilad Shalid ketika pertama kali diwawancarai Nationalpost.
Di Palestina hari ini, bagi dunia adalah hari bersejarah. Dan setiap tanggal 18 Oktober 2011 nanti akan dikenang rakyat Palestina sebagai ‘Hari Pembebasan’. (Continued)
Harapan kalangan intelijen agar Rancangan Undang-Undang Intelijen Negara lolos di Senayan, sudah lama terdengar seperti desah rindu seruling kembali ke dekapan rumpun bambu. Tapi situasi dalam lima bulan terakhir, khususnya sejak draft memasuki pembahasan serius di DPR per Maret 2011, memaksa mereka menggali lubang pertahanan yang dalam.
Banyaknya pihak yang ingin membunuh draft tersebut.
(Continued)
Filed in Guyonan, Hankam, Politik, Sudut Sejarah
|
Tagged BIN, DPR, Intelijen, nasional, pejabat, RUU Intelijen, SBY, wapress
|
Pemilu masih tiga tahun lagi tapi hawa panasnya dalam beberapa pekan terakhir telah menelan korban yang paling tak terduga dalam sejarah Republik: Wakil Duta Besar Amerika Serikat di Jakarta, Ted Osius. Apa, kenapa dan bagaimananya adalah ‘ta’jil’ yang tak kalah sedapnya. Ini cerita ringkas tentang sebuah partai domino panas, dimainkan diam-diam oleh purnawirawan, politisi, ‘diplomat asing’, dan pers Jakarta, menjelang ‘kepulangan bersejarah’ seorang perempuan perkasa yang mengincar kursi Istana Negara dari ruangan kerjanya yang sejuk di markas besar World Bank di Washington, Amerika Serikat. (Continued)
Filed in Politik, Sudut Sejarah
|
Tagged BIN, DPR, dubes amerika, indonesia, Intelijen, nasional, pejabat, RUU Intelijen, ted osius, Wartawan
|

Spionase Amerika
Pengantar Redaksi: Tulisan berseri ini adalah upaya lanjutan Islam Times menggali khasanah WikiLeaks, ‘tambang emas’ kawat rahasia Kedutaan Amerika Serikat yang muncul tanpa sensor di Internet sejak awal September. Di edisi ini, kami memotret ketertarikan misterius kedutaan atas Solo, kota kecil di Jawa Tengah, yang di hari-hari ini masih berduka lepas Teror Bom Gereja, 25 September 2011.
Semua orang suka pada pihak yang menang dan begitu pula Kedutaan Amerika Serikat pada Joko “Jokowi” Widodo, walikota Solo yang berhasil mengangkat martabat wilayahnya dengan dedikasi, kemandirian, dan kebersahajaan yang langka, dan sebab itu dia lalu jadi buah bibir orang banyak. Tapi pemeriksaan Islam Times atas gulungan telegram di WikiLeaks menunjukkan kalau ketertarikan diplomat Amerika pada Jokowi dan Solo lebih dari sekadar urusan batik, pasar, dan wayang, seperti yang kerap diungkap para diplomat dan oleh media yang rajin mengutip mereka. Inilah kisah sebuah kota yang, di tangan Kedutaan Amerika, seolah menjelma menjadi sebuah laboratorium besar spionase. Inilah kisah jarum halus infiltrasi berselimut “penguatan hubungan”, “dukungan demokrasi” dan “asistensi perang melawan teror”.
(Continued)
Pengantar Redaksi: Ini tulisan ketiga sekaligus yang terakhir dari Islam Times sekaitan kawat diplomat Amerika Serikat yang jatuh ke tangan pengelola website WikiLeaks. Bahannya merujuk pada 3.000 lebih telegram yang bersumber dari Kedutaan Amerika di Jakarta – muncul tanpa sensor pertama kali di WikiLeaks pada awal September dan hingga kini, secara misterius, tak tersentuh oleh hampir semua media di Jakarta. Inilah kisah yang tak ingin didengar kalangan diplomat Amerika dan semua informan mereka. Sebuah cerita tentang tusukan infiltrasi yang sistematis dan perihnya nasib republik yang takluk di kaki Kedutaan Amerika. (Continued)