Okt
22
2008
aktual
Sudah mafhum bahwa Revolusi Islam Iran memiliki karakteristik tersendiri dibanding dengan revolusi-revolusi lain. Kendati kajian tentang ini secara historis telah banyak dilakukan, namun sisi-sisinya yang khas masih banyak yang tak tersentuh. Aspek-aspek yang dimaksud terangkum dalam pertanyaan-pertanyaan: Apakah ini adalah revolusi yang sebenarnya? Bagaimanakah revolusi ini terjadi? Apakah revolusi ini dapat terus berlanjut dan menjadi contoh bagi negara lain? Uraian berikut akan berusaha menjawab pertanyaan ini secara relative singkat. Continue Reading »
Jun
13
2008
aktual
Aku juga seperti kamu…
Muak menyaksikan keanggunan ibu pertiwi
Diperkosa anak-anaknya sendiri
Di balik jubah kepahlawanan sejati
Aku juga seperti kamu…
Geram menatap putera-putera mahkota bangsa
Menantang gas air mata ketika berstatus mahasiswa
Mencekik rakyat jelata ketika sudah bertahta
Aku juga seperti kamu…
Dongkol menonton orang-orang pintar di dalam gardu
Teriak keadilan di depan orang-orang lugu
Kemudian berbisik kekuasaan antar rekan sekubu
Aku juga seperti kamu……
Jengkel menyaksikan penjahat bisa menjadi aparat
Tersangka bisa menjadi jaksa
Penzalim bisa menjadi hakim
Tapi…………
Aku juga seperti kamu
Muak bukan karena kita bertakwa
Melainkan karena mereka bukan kita
Mereka hanyalah saudara sebangsa
Dan aku juga seperti kamu….
Geram bukan karena mereka srigala
Melainkan karena kita bukan buaya
Kita hanya sekedar kecoa
Kita dengan mereka ternyata sama saja
Sama-sama ingin berpesta api neraka
Tapi mereka sudah berebut tempat di sana
Kita tidak ikut karena kita tak berdaya
Oh Tuhan, kasihanilah kecoa….
Jun
09
2008
aktual
Malam hari di musim gugur akhir tahun 2007, dingin udara kota suci Qom sudah menyengat tulang. Karena itu, meski jaraknya tak jauh aku pergi naik taksi ke markas Himpunan Pelajar Indonesia yang sedang kedatangan tamu beberapa orang anggota DPR RI dari Fraksi PAN dan PDI-P. Malam-malam akhir bulan suci Ramadhan itu, dalam taksi terjadi sedikit percakapan menarik antara aku dan sopir yang cambangnya sudah berwarna perak. “Kamu orang Malaysia ya?” Tebak sopir tua itu. ” Aku jawab “Ya” meski aku orang Indonesia asli. Sekedar diketahui, seringkali ketika saya berjumpa dengan orang lain negara terutama belahan eropa, ketika kita menyebutkan kita berasal dari Indonesia mereka selalu bilang “ Negeri Makmur, Surga Koruptor”. Karena itu saya tidak mau bersilat lidah, tebakan sopir bahwa aku berasal dari negara Kerajaan itu aku ‘iya’ kan saja. Continue Reading »
Jun
08
2008
aktual
Mo kenalan… Silahkan isi buku tamu..

Jun
08
2008
aktual
Padamu negeri
Dari rantau aku menyapamu lagi
Apa kabar hari ini
Engkau bilang masih seperti kemarin hari
Padamu negeri
Dari rantau aku bertanya kembali
Tentang bagaimana esok pagi
Engkau pastikan seperti hari ini
Padamu negeri
Aku kapok tak ingin bertanya lagi
Kalau jawabannya selalu begini
Sampai hari kiamat nanti
Padamu negeri
Mana mungkin aku bisa berjanji
Akan segera kembali membawa nyali
Jika semuanya sudah tak berhati
Padamu negeri
Apalah gunanya memekikkan reformasi
Jika etika masih dirobohkan ambisi
Sehingga seantero negeri jadi taman safari
Padamu negeri
Apalah artinya menggulingkan rezim yang kau maki
Jika yang baru ternyata hanya ambil posisi
Menumpuk harta atas nama ibu pertiwi
Padamu negeri
Mana mungkin engkau tak kelihatan ngeri
Bajingan terminal dikeroyok sampai mati
Bajingan nasional dikembang-biakkan bagai merpati
Padamu negeri
Mana mungkin wajahmu nampak ramah berseri
Jika demi sepiring nasi, si kurcaci harus bertarung melawan polisi
Sedangkan demi BMW, si drakula tinggal kenakan baju safari
Padamu negeri
Mana mungkin orang kecil tak kan iri
Melihat pejabat dan politisi hamburkan uang di luar negeri
Sedang nelayan, buruh, dan petani makan satu dua kali sehari
Padamu negeri
Aku kapok tak ingin menyapamu lagi
Kalau jawabannya selalu begini
Sampai hari kiamat nanti. [jb_21]
Jun
04
2008
aktual
Delapan penjuru angin penuh dengan keindahan, bukankah pekerjaan yang indah mengabadikan segala yang indah.” (Bastian Tito)
Wiro Sableng. Itulah nama tokoh khayalan yang paling aku kagumi ketika usiaku masih belasan tahun, di samping Brama Kumbara, Sembara, Jaka Sembung, Superman dsb. Dalam satu penggalan kisah yang muncrat dari ubun-ubun kepala Bastian Tito itu, ada satu kisah tentang keindahan. Musuh Wiro Sableng, seorang pengemis tua yang ternyata nona cantik, ingin mengabadikan kecantikannya dengan menelan hati mayat gadis sampai jumlahnya belasan . Dengan begitu, menurut nona itu, usia dan kecantikannya akan bertahan hingga berabad-abad. Setelah berhasil ditaklukkan oleh Wiro Sableng, si nona pendekar sakti mandraguna itu diketahui mengantongi azimat yang ternyata hanya bertuliskan puisi guru silatnya. Puisi itu seingatku berbunyi: Continue Reading »
Jun
04
2008
aktual
Welcome to Blogdetik.com. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!